Pastikan, Stres Tidak Merusak Pernikahan Anda [all4women]

Pastikan, Stres Tidak Merusak Pernikahan Anda

PinkKorset.com –¬†Penyebab stres dalam hubungan biasanya terkait dengan ¬†keuangan, anak-anak, karier, jadwal sibuk dan komunikasi yang buruk.

Tekanan kerap muncul dalam rumah tangga dan berpotensi memicu masalah yang lebih besar, seperti perselisihan, konflik bahkan perceraian. Namun, tahukah Anda, semua dampak negatif ini bisa dihindari, tergantung cara menyikapinya.

Menghindari stres tidak menyebabkan kebahagiaan

Bukan menghindari stres dan konflik yang membuat seseorang menjadi bahagia, namun manajemen yang sehat dan konstruktif dalam mengatasi tekanan tersebut.

Gaya hidup sibuk, stres di tempat kerja dan tekanan ekonomi merupakan realitas kehidupan. Namun, bukan berarti hubungan keluarga harus berantakan, atau tingkat kebahagiaan menurun. Semuanya bisa dimulai dan diakhiri dengan komunikasi yang sehat dan cukup sering dilakukan. Terutama untuk menyuarakan perasaan dan kebutuhan pribadi, sembari memetik manfaat dari komunikasi tersebut.

Pernikahan yang bahagia berasal dari keluarga yang bahagia.

Stres sering memicu konflik

Stres sering mengarah pada konflik. Inilah tanggung jawab terbesar bagi orang tua dalam mengajarkan anak-anak bagaimana menanganinya.

Orang tua adalah panutan pertama dan paling berpengaruh dalam kehidupan anak-anak. Mereka akan mempelajari dari Anda dan membangun hubungan mereka sendiri atas fondasi itu.

Tekanan keuangan dan perebutan kekuasaan

Menurut statistik, faktor terbesar yang berkontribusi terhadap perceraian adalah masalah keuangan.

Tekanan keuangan dapat terjadi sebagai akibat dari perebutan kuasa atau perbedaan pendapat mengenai pengeluaran dan penganggaran. Ketika dua orang mencoba menggabungkan dan menyatukan berbagai latar belakang, pengalaman dan opini, tak diragukan lagi akan terjadi konflik.

Komunikasi yang baik dan kemauan untuk bernegosiasi serta kompromi penting dalam situasi ini. Orangtua Anda mungkin telah menangani keuangan rumah tangga mereka dengan cara tertentu. Demikian juga orang tua pasangan Anda, yang mungkin melakukannya dengan cara berbeda.

Kita cenderung percaya bahwa sistem yang digunakan orang tua kita, adalah benar. Namun, ada cara yang berbeda untuk setiap hal. Anda dan pasangan pun sebaiknya menegosiasikan cara baru yang bisa berjalan baik untuk hubungan dan keadaan Anda berdua yang unik.

Seberapa baik Anda berkomunikasi dan bernegosiasi terhadap masalah ini, akan menjadi landasan penting untuk membangun rumah tangga ke depannya.

Pasangan dengan anak-anak lebih tidak bahagia

Menyedihkan, studi terbaru terkait stres dan pernikahan menunjukkan bahwa ibu dan ayah umumnya kurang bahagia daripada rekan-rekan mereka yang tidak punya anak. Ibu lebih tidak bahagia ketimbang ayah. Demikian pula orang tua tunggal.

Bertambahnya anak dan tuntutan lain yang muncul secara ekonomi, fisik dan emosional pasti bisa menjadi pemicu stres besar. Namun, anak-anak dapat menjadi penambah semangat yang menyenangkan, selain sumber sukacita dan kepuasan yang luar biasa, jika orang tua bisa mengasuh mereka dengan cara yang sehat dan positif.

 

Bagaimana meminimalkan stres dan konflik

Sebuah langkah besar meminimalkan stres dan konflik untuk meningkatkan kenyamanan di rumah tangga adalah mengubah fokus dari diri sendiri menjadi kebutuhan orang lain.

Ibu dan ayah perlu berusaha mencari tahu kebutuhan masing-masing dan melakukan upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Ini suatu hal yang muncul alami seperti ketika jatuh cinta atau bahkan di awal pernikahan.

Ketika kita menjadi kurang fokus pada diri sendiri dan lebih memperhatikan orang lain, komunikasi akan membaik dan sebagai hasilnya, konflik berkurang dan pemahaman berkembang.

Namun ketika hanya satu pihak yang selalu fokus pada kebutuhan yang lain sementara mitranya tetap memikirkan diri sendiri, ketidakseimbangan dapat terjadi. Hal ini dapat menyebabkan stres yang lebih besar dan masalah perkawinan.

Kadang, orang dapat menjadi begitu nyaman dalam hubungan, terutama ketika satu orang yang selalu bersedia untuk memberikan dirinya sendiri. Sementara pihak lain hanya menerima tanpa memberi imbalan.

Dalam situasi ini, sering dianjurkan untuk mencari bantuan dari konselor atau mediator yang dapat membantu pasangan untuk menyuarakan dan mengekspresikan kebutuhan serta keprihatinan mereka. Selain dapat memberikan saran praktis dan dukungan.