Cek Mitos Tentang Hipertensi

PinkKorset.com – Banyak mitos tentang hipertensi di masyarakat yang perlu diluruskan kebenarannya.

Tekanan darah tinggi kerap disebut ‘silent killer’ karena penyakit ini kerap datang tiba-tiba tanpa gejala yang jelas. Hal inilah yang menyebabkan banyak rumor beredar di masyarakat tentang pemicunya.

Dalam rangka Hari Hipertensi Sedunia yang jatuh setiap tanggal 17 Mei, mari kita menelaah satu persatu mitos yang kerap muncul terkait hipertensi.

1. Kalau orangtua saya memiliki penyakit hipertensi, pasti saya juga mewarisinya

Cek Mitos Tentang Hipertensi

Banyak orang yang masih mempercayai mitos yang satu ini. Tekanan darah tinggi memang dapat diturunkan dalam keluarga. Anda akan lebih rentan mengalami hipertensi jika ada orangtua atau kerabat sedarah yang memiliki tekanan darah tinggi. Namun, bila Anda menjalani gaya hidup yang lebih sehat, maka Anda bisa terhindari dari penyakit ini.

Gaya hidup sehat yang dimaksud adalah mengkonsumsi makanan yang sehat untuk jantung, membatasi penggunaan garam maksimal 1500 mg per hari, melakukan aktivitas fisik dan olahraga teratur, menjaga berat badan, mengelola stres, berhenti merokok, hindari minuman keras, rutin melakukan cek tekanan darah, dan patuh minum obat darah tinggi jika diresepkan.

2. Orang suka marah pasti punya penyakit darah tinggi

Cek Mitos Tentang Hipertensi

Pendapat yang satu ini juga merupakan mitos. Marah memang akan meningkatkan adrenalin dan menyebabkan pembuluh darah mengecil, sehingga tekanan darah meningkat. Namun, hal ini tidak serta merta disebut hipertensi.

Marah bisa disamakan dengan kegiatan naik turun tangga. Saat melakukan aktivitas tersebut, akan terjadi peningkatan tekanan darah. Namun, bukan berarti hal-hal tersebut bisa menyebabkan hipertensi. Karena tekanan darah tinggi tersebut terjadi hanya beberapa saat dan bersifat fluktuatif. Berbeda dengan hipertensi yang tekanan darah tingginya terus-terusan dan sulit turun.

3. Saya tidak merasakan satu pun gejala hipertensi, artinya saya terbebas dari risiko penyakit ini

Cek Mitos Tentang Hipertensi
Ini adalah mitos yang sebaiknya disingkirkan jauh-jauh. American Heart Association telah menggolongkan tekanan darah tinggi sebagai ‘silent killer’ atau pembunuh bisu karena penyakit ini kerap muncul tiba-tiba tanpa gejala yang jelas, sehingga Anda mungkin tidak menyadari bahwa penyakit ini telah merusak arteri, jantung, dan organ lainnya.

Sebagai informasi, lebih dari 25 persen penduduk Indonesia memiliki hipertensi, namun banyak yang tidak menunjukkan gejala sama sekali. Untuk mencegahnya, lalkukan cek tekanan darah secara rutin sehingga Anda bisa segera melakukan tindak pencegahan ketika tekanan darah secara konstan lebih tinggi dari biasanya.

4. Memasak tanpa garam cukup untuk mencegah hipertensi

Cek Mitos Tentang Hipertensi
Garam memang musuh hipertensi. Namun, tahukah Anda bahwa 75 persen garam yang kita konsumsi tersembunyi dalam makanan olahan dan kemasan seperti saus tomat, sup, bumbu, makanan kaleng, dan bumbu campuran?

Ini pentingnya selalu membaca label produk saat membeli makanan kemasan atau makanan siap saji. Bila Anda menemukan kata-kata “sodium, “natrium”, dan simbol “Na” pada label, berarti produk yang Anda beli mengandung senyawa sodium atau garam.

5. Kalau mau pakai garam, pilih saja garam laut karena rendah natrium

Cek Mitos Tentang Hipertensi
Struktur kimia garam laut sebenarnya sama seperti garam meja (garam dapur), yaitu kombinasi dari dua mineral natrium (Na) dan klorida (Cl). Garam laut tetap mengandung 40% natrium sehingga berjumlah sama terhadap total konsumsi natrium harian Anda.

Jadi, mengganti konsumsi garam biasa dengan garam laut, tidak bisa membebaskan Anda dari hipertensi. Anda sebaiknya membatasi asupan garam dalam bentuk apapun bila ingin mengontrol tekanan darah.

6. Alkohol baik untuk jantung

Cek Mitos Tentang Hipertensi
Tahukah Anda bahwa penggunaan alkohol secara teratur dan berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah secara dramatis. Minuman keras juga dapat menyebabkan gagal jantung, stroke hingga memicu detak jantung yang tidak teratur.

Tak hanya itu. Terlalu banyak minum alkohol juga dapat meningkatkan risiko kadar trigliserida tinggi, kanker, obesitas. Alkohol, bunuh diri, dan kecelakaan. Alkohol juga bisa sangat adiktif.

Bila Anda membutuhkan alkohol, batasi konsumsi tidak lebih dari dua minuman per hari untuk pria dan satu minuman per hari untuk wanita. Umumnya, satu minuman setara dengan 354 ml bir, 100 ml anggur, 44 ml liquor 80-proof, atau 29 ml liquor keras (100-proof).

7.  Tak perlu minum obat jika sudah merasa sehat

Cek Mitos Tentang Hipertensi
Tekanan darah tinggi adalah penyakit seumur hidup. Oleh sebab itu, orang dengan hipertensi harus rutin minum obat yang diresepkan dokter, meski sudah merasa sehat. Ketika Anda berhenti mengkonsumsi obat, tekanan darah Anda akan terus naik dan menjadi tidak terkendali.

Bila ingin mengurangi obat, sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter.

8. Jika sudah cek di dokter, tidak perlu lagi cek tensi di rumah

Cek Mitos Tentang Hipertensi
Tekanan darah dapat berubah bergantung pada aktivitas yang Anda lakukan. Jadi, tekanan darah yang normal ketika dicek di rumah sakit, belum tentu menunjukkan hasil yang sama ketika dicek di rumah. Begitu pula sebaliknya.

Oleh sebab itu, pemantauan dan pencatatan pembacaan tekanan darah secara teratur dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi dokter untuk menentukan apakah Anda benar-benar memiliki tekanan darah tinggi atau tidak. Tak hanya itu, hal tersebut juga dapat membantu dokter untuk melihat apakah pengobatan Anda berhasil atau tidak.

Penting untuk mengukur tekanan darah pada waktu yang sama setiap hari, seperti pagi dan sore hari, atau seperti rekomendasi dokter Anda.

 

Artikel ini diolah dari berbagai sumber