Mengapa Bisnis Ritel Konvensional Goyah? [the star]

Mengapa Bisnis Ritel Konvensional Goyah?

PinkKorset.com, Jakarta – Benarkah bisnis ritel konvensional atau toko offline tumbang akibat persaingan pemain e-commerce?

Consumer Behaviour Expert, Board Expert Aprindo dan Hippindo, Yongky Susilo menjelaskan, tidak dapat dipungkiri pertumbuhan e-commerce di Indonesia meningkat cepat. Tetapi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih kecil yakni 2%-3%.

“Jadi (e-commerce) tidak mungkin bisa menggoyang bisnis ritel konvensional (toko offline),” ucapnya saat diskusi Industri Ritel Indonesia di Era Disrupsi dalam acara HUT majalah MIX MarComm ke-15 dan peluncuran kembali komunitas pembaca #MIXMarcommunity di Jakarta beberapa waktu lalu.

Platform e-commerce berpotensi menguasai perdagangan di masa depan atau bisa saja tidak. Bagi Yongky, evolusi dalam sebuah bisnis ini sangat penting agar tetap selamat. Porsi bisnis ritel saat ini terbagi menjadi tiga, antara lain 73% toko tradisional, 6,6% supermarket dan hypermarket serta 21% mini market.

Selama 15 tahun terakhir terindikasi hypermarket tidak berevolusi. Mereka masih mengandalkan diskon besar-besaran untuk menarik perhatian konsumen. Padahal cara ini sudah tidak ampuh lagi.

Yongky mengajak kilas balik pada 2007 saat Carrefour memberikan diskon belanja hingga 20% yang belum pernah diberikan hypermarket lain sebelumnya. Kemudian menyusul pemain lainnya hingga Hypermart memberi diskon 31%. Sementara margin bisnis kebutuhan sehari-hari (groceries) sangat kecil.

“Oleh karena itu, fenomena ini hanya bertahan setahun. Diskon besar sama saja bunuh diri,” sambungnya.

Sayangnya, cara seperti ini masih dilakukan. Pemain hypermarket masih memberikan iming-iming segudang diskon saat weekend. Ketika konsumen berbelanja sudah dipusingkan dengan deretan angka dari atas hingga bawah hypermarket.

Mengapa Bisnis Ritel Konvensional Goyah?

[Hypermarket dipenuhi tawaran diskon]

Berbelanja seharusnya menyenangkan dengan menemukan hal-hal baru di setiap sudut toko. Keputusan membeli sesuatu bukan sekadar berdasarkan angka (diskon) tetapi emosional.

“Manusia tetap emosional, keputusan membeli adalah emosional,” ujarnya.

Sebetulnya sensasi sentuhan emosional ini lebih banyak dirasakan saat berbelanja di toko offline ketimbang toko online. Hal ini tentu menjadi nilai tambah bagi bisnis ritel. Hanya saja mereka harus berevolusi.

“Toko (offline) adalah the future of retail. Karena manusia datang perlu experience dan touch of human atau cinta,” pungkasnya.