NASA Uji Pesawat Hibrida Mirip Toyota Prius Foto: wonderfulengineering

NASA Uji Pesawat Hibrida Mirip Toyota Prius

PinkKorset.com, New York – Lembaga Antariksa AS NASA, sedang menguji pesawat listrik hibrida yang merupakan salah satu program ramah lingkungan mereka.

Saat ini, ilmu pengetahuan mengubah paradigma untuk mengurangi efek-efek berbahaya dan lebih ramah lingkungan.  Ini adalah tujuan proyek NASA yang dikenal sebagai Environmentally Responsible Aviation (ERA).

Tujuan ERA adalah untuk mengurangi emisi, tingkat kebisingan dan konsumsi bahan bakar pesawat. Inilah yang mengilhami mahasiswa teknik dari University of Virginia membuat simulasi pesawat ramah lingkungan. Hasilnya adalah simulasi pesawat listrik hibrida yang mampu terbang dengan kapasitas 50 penumpang.

Tim yang dipimpin mahasiswa teknik dirgantara, Sohail Ahmad dan Kelly Thomas ini menggunakan Flight Optimization System (FLOPS) untuk mengevaluasi sejumlah desain berdasarkan sistem penggerak dan pesawat yang sudah digunakan.

Seluruh penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah teknologi hibrida, mesin pembakaran internal dan motor listrik, layak menjadi pesawat penumpang.

Mereka memutuskan untuk menggunakan baterai saat lepas landas dan mendarat, karena berlangsung di area yang padat. Sementara mesin pembakaran internal ( ICE ) akan berperan selama penerbangan. ICE juga akan mengisi baterai saat mendarat.

Pesawat uji yang dipilih adalah ATR 42-600 yang merupakan baling-baling pesawat komersial twin turbo, yang bisa membawa 48 orang. Riset ini menguji apakah konversi model ini akan menghasilkan solusi hibrida yang layak.

NASA Uji Pesawat Hibrida Mirip Toyota Prius

Dua metodologi dites, yakni seri dan paralel. Dalam sistem seri, ICE bekerja untuk mengisi baterai dan memberi tenaga generator listrik yang akan menjalankan mesin.  Sedangkan untuk sistem paralel, baling-baling bisa didukung oleh ICE dan atau motor listrik. Kesimpulan akhir adalah bahwa sistem paralel lebih efisien untuk desain dan proyek ini.

Baterai adalah bagian penting dari sistem ini dan mereka harus mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk tenaga untuk rasio beban dan umur baterai.

Riset yang dilakukan di FLOPS memberi spesifikasi baterai yang dibutuhkan. Diketahui, mereka membutuhkan energi untuk daya dorong lebih dari 3.000 kilogram pada kecepatan 368 km/jam. Kemampuan ini turun menjadi 1.500 kW per mesin. Pilihan akhir mereka adalah baterai polimer Lithium dengan berat total setara kurang dari 6.500 kilogram.

Dengan pendekatan modifikasi ini, tahun-tahun mendatang bisa dirancang pesawat dengan mesin pembakaran internal yang jauh lebih hemat bahan bakar untuk jarak hingga 300 mil dan ramah lingkungan

Penambahan teknologi atau fitur baru terhadap sistem yang lama (retrofitting), saat ini memang belum menjanjikan. Namun, mereka yakin teknologi saat ini dapat digunakan untuk merancang pesawat khusus untuk sistem penggerak hibrida.

Penelitian saat ini masih berlangsung. Anda bisa berharap, karya teknologi yang indah akan segera terwujud.