Ini Pentingnya Buku KIA bagi Keluarga [Pinkkorset]

Ini Pentingnya Buku KIA bagi Keluarga

PinkKorset.com, Jakarta – Begitu penting buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) maka setiap ibu harus memiliki dan menyimpannya.

Berdasarkan SK Menkes Nomor 284/Menkes/SK/III/2004 Kementerian Kesehatan menetapkan buku KIA menjadi satu-satunya alat pencatatan pelayanan kesehatan ibu dan anak sejak ibu hamil, melahirkan dan selama nifas hingga bayi yang dilahirkan berumur 5 tahun. Hal ini termasuk pelayanan imunisasi, gizi, tumbuh kembang anak dan KB.

Buku KIA menggabungkan beberapa catatan kesehatan di komunitas seperti Kartu Menuju Sehat (KMS), kartu imunisasi dan kartu ibu. Buku ini juga berisi informasi penting tentang kesehatan ibu dan anak yang perlu dilakukan ibu, suami dan keluarganya secara singkat serta padat.

Informasi tersebut termasuk mengenai kewaspadaan keluarga dan masyarakat tentang kesakitan, masalah kegawatdaruratan pada bumil, bayi baru lahir serta balita. Sehingga buku KIA menyumbang penurunan angka kematian bayi dan balita.

Buku KIA juga mengintegrasikan surat keterangan lahir untuk mempermudah mendapatkan akte, buku pegangan pendamping Program Keluarga Harapan, media pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak di PAUD, Bina Keluarga Balita dan lain-lain.

“Ada dua elemen penting buku KIA yaitu media informasi dan media pencatatan (monitoring) di keluarga maupun masyarakat,” ucap Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, dr. Kirana Pritasari, MQIH dalam Workshop Advokasi Pemanfaatan Buku KIA untuk Memperkuat Suplementasi Vitamin A di Jakarta, Rabu (19/9/2018).

Ini Pentingnya Buku KIA bagi Keluarga

Buku KIA diberikan gratis kepada bumil di Puskesmas. Kementerian Kesehatan mencetak dan mendistribusikan buku tersebut ke daerah sebanyak 94% dari total sasaran bumil.

Namun, data Survei Kesehatan Nasional (Sirkesnas 2016) mengungkap 81,5% bumil menyatakan memiliki buku KIA tetapi hanya 60,5% di antaranya yang mampu menunjukkannya.

Padahal hasil analisis data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2013) dan Survei Kesehatan Nasional (Sirkesnas 2016) menunjukkan adanya keterkaitan antara kepemilikan Buku KIA dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Data tersebut mengungkap ibu yang memiliki Buku KIA sering melakukan pemeriksaan kehamilan dan banyak bersalin dengan bantuan tenaga kesehatan serta dilakukan di fasilitas kesehatan. Hal ini berbanding terbalik dengan ibu yang tidak memiliki Buku KIA. Sehingga Buku KIA berdampak positif pada perubahan perilaku ibu.

Setiap satu anak perlu memiliki satu buku KIA untuk memantau tumbuh kembangnya. Sebagai monitoring, buku ini perlu diisi ibu, dokter, bidan, maupun kader (Posyandu, PKK). Buku KIA harus disimpan, tidak rusak dan hilang serta perlu dibawa saat berkunjung ke fasilitas kesehatan.

Dr. Kirana menambahkan, buku KIA diperbaharui dengan informasi terkini per tahun dengan perubahan total setiap lima tahun.

“Awal 2019 kami akan meluncurkan buku KIA versi digital,” pungkasnya.