Rompi Gaya Untuk Penyandang Tuna Rungu [oakbuzz]

Rompi Gaya Untuk Penyandang Tuna Rungu

PinkKorset.com – Temuan yang satu ini diciptakan khusus untuk para penyandang tuna rungu. Tidak hanya bisa mendengar, mereka pun juga bisa bergaya.

Ya. Para ilmuwan menciptakan alat bantu dengar dalam bentuk rompi gaya dan canggih.

Dalam proyek bernama V.E.S.T (Versatile Extra-Sensory Transducer) ini, teknologi implan koklea yang digunakan memiliki konsep dasar mengubah suara menjadi gelombang listrik.

“Suara yang datang dikumpulkan dalam smartphone, lalu diubah menjadi gelombang listrik dalam rompi yang dikenakan. Dari sini rompi mengirimkan ‘informasi’ tersebut ke otak, agar pemakai rompi bisa `mendengar,” kata Dr David Eagleman, pakar ilmu saraf dari Baylor College of Medicine di Houston, Texas.

Teorinya, beberapa hari atau minggu setelah mengenakan rompi itu, otak pengguna akan menyesuaikan dirinya dengan metode input seperti ini. Sehingga tidak hanya mendengar, otak pengguna pun akan belajar memproses suara dengan cara merasakannya.

Rompi Gaya Untuk Penyandang Tuna Rungu

Menurut David, cara kerja ini sebenarnya sama dengan mekanisme pendengaran telinga.

“Suara itu kan sebenarnya getaran yang diolah gendang telinga lalu diterjemahkan sebagai sinyal atau gelombang listrik yang dapat dipahami otak. Bedanya di sini getaran tersebut diterjemahkan dengan sentuhan untuk menghasilkan pengalaman serupa,” katanya.

Namun, salah satu penemu lain, Scott Novich  mengatakan, tak semua orang dapat terbantu dengan teknologi ini. Selain harganya mahal, untuk memasangnya pun butuh operasi invasif. “Kalau Anda terlahir sudah dalam keadaan tuli, implan ini pun biasanya tak banyak membantu,”katanya.

Bagaimanapun, bila produk ini berhasil dibuat, David menjamin harganya akan dipatok jauh lebih murah daripada implan koklea, yakni di bawah US$2.000 atau sekitar Rp24 juta.

Untuk sementara, David dan Scott harus menggalang dana lewat situs Kickstarter agar rompi ini bisa terealisasi. Targetnya, mereka harus mengumpulkan US$40 ribu atau sekitar Rp488 juta dan kini mereka baru mendapatkan sepertiganya.