Mengenal Suku Leher Panjang di Thailand [thieunien]

Mengenal Suku Leher Panjang di Thailand

PinkKorset.com, Jakarta – Salah satu wilayah di pedalaman Thailand terdapat para perempuan dengan leher jenjang akibat kebiasaan menggunakan aksesoris khusus.

Sebuah permukiman di Desa Wisata Ban Tong Luang, Chiang Mai di wilayah pegunungan Thailand Utara didiami suku Karen atau suku leher panjang. Mereka dikenal dengan perempuan-perempuan berleher jenjang. Para perempuan suku Karen memiliki leher panjang bukan karena keturunan tetapi bermula dari tradisi memakai kalung spiral kuningan.

Sejak mereka berumur 5 tahun sudah mengenakan kalung spiral kuningan. Jumlah lilitan kalung semakin meningkat selaras pertambahan usia. Satu set kalung ini dapat mencapai berat 10 kg. Tekanan kalung ini menyebabkan otot tulang selangka dan rusuk tertekan ke bawah. Sehingga mereka terlihat memiliki leher panjang. Mereka juga mempercantik diri dengan hiasan kepala warna-warni dan beragam aksesoris.

Mengenal Suku Leher Panjang di Thailand

Kebiasaan ini menjadi tradisi akibat cara pandang laki-laki suku Karen yang menganggap leher perempuan semakin jenjang semakin terlihat cantik.

Sebenarnya suku ini bukan penduduk asli Thailand. Legenda mengisahkan, nenek moyang suku Karen  pernah melintasi ‘sungai pasir mengalir’ yang diasosiasikan Gurun Gobi. Mereka tinggal di Myanmar selama ratusan tahun. Namun, konflik dengan pemerintah Myanmar memaksa mereka berpindah ke pegunungan di Thailand Utara. Sehingga orang-orang Thailand menyebut mereka Hill Tribes.

Total penduduk suku Karena sekitar 350.000 – 400.000 jiwa atau hanya 0,6% total penduduk Thailand. Mereka tinggal di rumah panggung berbahan dasar bambu. Bagian bawah rumah dimanfaatkan untuk kandang ternak. Mata pencaharaian suku Karen yakni bertani, pengrajin kain tenun dan kerajinan tangan.

Mengenal Suku Leher Panjang di Thailand

Bahasa asli mereka yakni paduan Tiongkok-Tibet yang dipengaruhi bahasa Thailand. Sebagian besar penduduk Karen memeluk Buddha, namun masih mempraktikkan animisme. Sementara sebagian kecil dari mereka menganut Kristen.

Pemerintah Thailand mengayomi mereka dan menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu desa wisata di Chiang Mai. Beberapa desa wisata lain ditinggali suku berbeda, diantaranya suku Lahu yang dikenal dengan kerajinan bordir dan bambu, suku Akha yang mahir membuat alat musik dan suku Hmong yang kental dengan hal-hal mistik.