Jakarta Concert Orchestra bawakan konser klasik bertajuk Love, God and My Home karya dua komponis kelas dunia dari zaman romantik.
Jakarta Concert Orchestra (JCO) gelar konser klasik Love, God and My Home dari karya dua komponis dunia dari zaman romantik, Henryk Wieniawski (Polandia) dan Antonin Dvořák (Cekoslovakia). Konser yang dipimpin konduktor sekaligus pimpinan JCO, Avip Priatna dan didukung Galeri Indonesia Kaya ini diadakan di Usmar Ismail Hall, Jakarta pada Minggu, 6 Oktober 2019.
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian menjelaskan, JCO merupakan salah satu orkestra yang konsisten melakukan konser sejak awal. JCO menjadi satu-satunya osrkestra di Indonesia yang berhasil membawakan repertoar lintas zaman dan lintas gaya dengan hasil yang gemilang. Selain membawakan karya musik orkestra standar seperti overture, simfoni, konserto, simfoni puitis, dan simfoni vokal, JCO juga beberapa kali mementaskan opera secara lengkap.
“Di bawah arahan direktur musik dan pengaba Avip Priatna, JCO menjadi orkestra senior yang mumpuni serta disegani pecinta musik klasik di Indonesia,” katanya di Jakarta, Minggu (6/10/2019).

[Konduktor Jakarta Concert Orchestra,
Karya overture ini ia buat untuk pagelaran teater patriotik dalam memperingati penulis dan aktor drama Cekoslovakia, Josef Kajetán Tyl tahun 1882. Komposisi ini diangkat diangkat dari karya Josef Tyl yang digubah menjadi lagu oleh František Škroup tahun 1834 berjudul ”Kdo domov můj” (Where is My Home). Karya ini menjadi lagu kebangsaan Czechoslovakia sejak tahun 1918 hingga saat ini.

[Pebiola muda berbakat Indonesia, Giovani Biga sedang beraksi]
Ia pun tampil begitu piawai menggesek biolanya membawakan karya komposer kelahiran 1835 di Polandia, Wieniawski. Wieniawski dikenal sebagai konserto biola paling terkenal di zaman romantik. Violin Concerto no : 2 dalam D minor Op. 22 dianggap karya terbaiknya karena melodi dan harmoni yang mengalir serta menarik.
Sementara Biga adalah pebiola muda berbakat yang telah menorehkan prestasi di dalam dan luar negeri. Ia telah memenangkan kompetisi Stockholm International Violin Competition di Swedia, the Arnuero XXIV International Music Competition di Spanyol dan Auryn Kammermusik Wettbewerb 2016 di Jerman.
Konser diakhiri dengan karya Dvořák “Symphony no: 7” dalam D minor, op. 70 B.141. Komposisi yang terdiri dari empat bagian ini bersama dengan Simfoni No. 8 dan No. 9 , dianggap sebagai cerminan masa keemasan Dvorak. Dalam membuat karya ini, Dvořák menuangkan pikiran Cinta, Tuhan dan Tanah Air atau rumahnya.